Menjadi Relawan SAMTAMA Prov DKI Jakarta

Video Dokumentasi Kegiatan SAMTAMA

24 Agustus 2019, adalah hari briefing untuk relawan terpilih yang akan melakukan edutrip ke TPST Bantar Gebang, Bekasi. Acara ini dihadiri langsung oleh Gubernur DKI Jakarta : Bapak Anies Baswedan, dan hal yang saya ingat pada closing statementnya adalah : dimulai dari hal yang kecil. Kalimat ini adalah pemantik untuk penyemangat para relawan tentang kesadaran terhadap pemilahan sampah, efek buang sampah sembarangan, sanitasi air, lingkungan, dan yang paling berhubungan dengan kajian studi saya adalah : dampak sampah pangan dan pengolannya.

31 Agustus 2019, Keberangkatan dari balai Kota dengan menggunakan Bus Trans Jakarta yang sudah disediakan oleh para panitia penyelenggara, dan ‘otw’ ke Bantar Gebang Bekasi.

Sesampainya di Bantar Gebang,

Pertama, pemandangan truk-truk pengangkut sampah sebelum menuju ke tempat kunjungan pertama yaitu : Pengolahan Sampah Menjadi Kompos. Saya dan relawan lain berada di bus 4 dengan dipandu oleh Pak Danang dari Unit Pengelola Dinas Lingkungan Hidup Prov DKI Jakarta.

Kedua, kunjungan ke Pengolahan Kompos. di area ini dibedakan kelompok sampah baru dan sampah lama untuk dijadikan kompos.

Untuk kompos yang telah dihasilkan bisa dengan gratis dibawa dengan mengajukan surat permohonan terlebih dahulu, bisa menghubungi TPST Bantar Gebang.

Kedua, Mengunjungi PLTSA TPST Bantar Gebang, di tempat inilah interaksi narasumber yaitu Bapak Asep, yang memaparkan tentang energi dari sampah, dampak sampah, Bantar Gebang di masa depan dan tata kelola sampah untuk masyarakat.

Ketiga, Kunjungan ke Gunung Sampah TPST Bantar gebang yang memang memperlihatkan betapa tingginya tumpukan sampah yang setiap harinya menerima 4 ton sampah, dan gunung sampah ini sudah bertahun-tahun.

Keempat, inilah terakhir tempat kunjungannya yaitu zona pengumpulan sampah yang baru datang, ada fenomena kehidupan yang saya saksikan dengan mata kepala langsung yaitu kehidupan yang begitu menyentuh dari para pemulung sampah, warkop di tengah gunukan sampah, dan lalat-lalat besar yang mengerumuni sampah segar, mereka para pekerja yang berkontribusi untuk pemilahan sampah semoga diberi kesehatan dan apresiasi yang layak berserta perlindungan kesehatan yang prima.

Dokumentasi dari Devara (Relawan Dokumentasi dari Kelompok 7 SAMTAMA)

Akhir edutrip ini ada tips pemilahan sampah ala TPST Bantar Gebang :

Selesai sudah edutrip relawan Samtama Pemprov DKI Jakarta, namun para relawan harus memulai memilah sampah dari kebiasaan diri sendiri dengan niat baik dan mengubah mindset sampah jadi berkah serta hidup sehat, hidup hemat dan hidup terawat.

Salam Lestari ! Karena menjadi relawan tidak ternilai harganya.

H2020 Proposal from European Commission

Human factors and social, societal, and organisational aspects for disaster-resilient societies :
✓ Novel methods in enhancing disaster preparedness for effective response and to “Build Back Better” in recovery, rehabilitation and reconstruction.
✓ Innovations in the disaster management cycle and strengthening disaster risk governance.

Holistic Nutritionist perspectives for social solidarity such as :
✓ sheltering
✓ health care
✓ nutritional relief
✓ social service
✓ education and youth
✓ housing
✓ migration and refugees protection (food and migration)
✓ Urgent Kitchen
✓ Food Stock for life cycle

EuropeanUnion #H2020 #NutritionRelief

Think ! Archaeology : Food, Health, History and Environment (Kelor,Onrust,Cipir Island)

Penyelenggara ; Yoki , Narasumber : Ari, M.Si (Arkeolog Muda).

Tema Perjalanan #SayaMauKeOnrust !

Deskripsi Singkat mengenai Think Archaeology : Kelor, Onrust, Cipir Island :

Saya Mau ke Onrust! jadwalnya sebagai berikut :

Kita akan berjumpa di Meeting point:
Pukul 06.30-07.00
Halaman Museum Sejarah Jakarta.
Kota Tua Jakarta

Rundown Onrust, 4 Mei 2019
06.30 – 07.00 Kumpul di Halaman Museum Sejarah Jakarta
07.00 – 08.30 Perjalanan ke Dermaga
08.30 – 09.30 Menuju Kelor
09.30 – 10.15 Explore Kelor, Foto bersama Martello
10.15 – 10.45 Menuju Kayangan
10.45 – 11.45 Explore Kayangan, Games
11.45 – 12.00 Menuju Onrust
12.00 – 13.00 Istirahat, Makan, Sholat bagi yang muslim.
13.00 – 14.30 Explore Onrust, Foto Bersama ‘Sarco’ Maria
14.30 – 15.00 Archaeotalks di Museum Pulau Onrust
15.00 – 16.00 Kembali ke Dermaga
16.00 – 17.00 Kembali ke Kota Tua Jakarta
17.00 Pulang

Tanggal keberangkatan:
4 Mei 2019.

Kali ini kita akan berpetualang ke Pulau Onrust, Kayangan (Cipir), dan Kelor serta Pulau Bidadari (hanya lewat, catatan : tempat ini dikelola oleh pihak swasta maka apabila berkunjung harus melalui beberapa tahap administrasi dan persetujuan dan tentunya dengan memilih paket pada destinasi pulau ini). Empat pulau ini terkenal dengan nama Gugusan Pulau Onrust, dan telah ditetapkan sebagai Kawasan Cagar Budaya Peringkat Nasional oleh Pemerntah Provinsi DKI Jakarta. Pulau Onrust, Pulau Bidadari, Pulau Cipir, Pulau Kelor letaknya saling berdekatan sehingga membentuk gugusan (kelompok) pulau.

Gugusan ini disebut Gugus Pulau Onrust. Jarak antara pantai Jakarta dengan Gugusan Pulau Onrust tidak terlalu jauh, banyak pelabuhan shuttle di Jakarta yang melayani pelayaran rute ke gugusan pulau ini, diantamya adalah Marina Jaya Ancol, Muara Baru, Muara Angke, Muara Kamal dan Muara Dadap. Bangunan bersejarah yang ada di Gugus Pulau Onrust sebagian besar dalam keadan rusak dan runtuh. Kondisi ini karena disebabkan oleh adanya pembongkaran dan penghancuran.
 
Bangunan bersejarah yang masih utuh di Pulau Onrust adalah rumah dokter, penjara Jepang, rumah genset, rumah registrasi, menara Keijker dan dermaga Di Pulau Bidadari dan Pulau Kelor hanya tersisa satu benteng martello, sedangkan di Pulau Cipir masih banyak bangunan
yang pernah berfungsi sebagai rumah pasien haji namun keberadaannya kini sudah tanpa stap.
 
Sejarah Gugus Pulau Onrust
Gugus Pulau Onrust sebelum dikuasai oleh VOC belanda pada tahun 1619 merupakan pulau-pulau yang masuk teritorial kekuasaan Kesultanan Banten, secara geografi dekat
dengan wilayah Tangerang yang juga masuk dalam kekuasan Kesultanan Banten pada waktu itu. Banten memanfaatkan Pulau Onrust sebagai tempat penyimpanan air bersih yang disuling secara alami dari air laut. Tinggalan arkeologis tempat penyimanan air di Pulau Onrust kini masih ada. Keberadaan tempat penyimpanan air di Pulau Onrust ini, konstruksinya hampir
sama dengan Pengindelan di Banten. Setelah dikuasai VOC Belanda, tempat penyimpanan air ini tetap digunakan.
 
Kehadiran tentara VOC Belanda yang dipimpin langsung oleh Jan Piterszoon Coen ini adalah menjadikan Pulau Onrust sebagai tempat konsolidasi tentaranya untuk menyerang dan membumi hanguskan kota Jayakarta yang berada dibawah kekuasaan Kesultanan Banten.
VOC Belanda memilih pulau ini sebagai tempat konsolidasi tentara karena kurang adanya kontrol Kesultanan Banten sehingga terkesan tak bertuan. Alasan lainnya adalah karena faktor
kedekatan geografi dengan Kota Jayakarta. Konsolidasi tentara VOC Belanda ini cukup taktis dan ampuh karena pada tanggal 30 Mei 1619 Kota Jayakarta berhasil dihancurkan dan dikuasai VOC Belanda.

Kejatuhan Jayakarta membuat VOC Belanda berkuasa penuh atas wilayah bekas kota Jayakarta dan sekitarnya. VOC Belanda pun membuat kota baru untuk kepentingan kelangsungan kekuasaannya. Kota baru tersebut diberi nama Batavia yang dalam perkembangan selanjutnya
kota Batavia diatur dengan sistem pemerintahan kolonial pertama di Indonesia. Berdasarkan dari awal kejatuhan Jayakarta yang berawal dari Pulau Onrust, dapat dikatakan bahwa Onrust sebagai titik awal kolonialisme di Indonesia dan sebagai titik awal perlawanan terhadap kolonialisme.
Gugusan Pulau Onrust dibawah kekuasaan VOC Belanda difungsikan sebagai tempat pertahanan dalam mempertahankan Kota Batavia yang ada dibelakang Gugusan Pulau Onrust
dari serangan pesaingnya atau musuhnya. Selain sebagai tempat pertahanan juga dijadikan sebagai pelabuhan transit komoditi yang akan diekspor ke Eropa. Gudang-gudang komoditi dibangun sekaligus dibangun benteng untuk melindungi komoditi tersebut. Kejayaan VOC terhadap Gugus Pulau Onrust berakhir bersamaan dengan bubarnya VOC pada tahun 1799 dan hancurnya Pulau Onrust dan Cipir akibat blokade Inggris sejak tahun 1800 hingga 1810.
 
Pemerintah Hindia Belanda pada pertengahan abad 19 merubah fungsi Gugusan Pulau Onrust menjadi pangkalan Angkatan Laut dan menjadikan perairan yang dikelilingi Pulau Onrust, Pulau Bidadari, Pulau Cipir dan Pulau kelor sebagai pelabuhan kapal perangnya. Seluruh bangunan periode VOC dibongkar total dan dibangun sarana dan prasana baru untuk keperluan Pangkalan Angkatan Laut diantaranya dibangun menara Martello (menara pengintai) disetiap
pulau. Pangkalan Angkatan Laut di Gugusan Pulau Onrust tidak belangsung lama karena Pemerintah Hindia Belanda membangunan Pangkalan Angkatan Laut yang lebih besar di Surabaya dan kemudian membangun Pelabuhan Tanjung Priok tahun 1883. Peran Gugusan
Onrust sebagai pelabuhan dan pangkalan AL semakin meredup yang akhirnya terbengkalai dan ditinggalkan. Baru mendapat perhatian lagi pada tahun 1933 ketika Pemerintah Hindia Belanda
membangun karantina haji dan penyakit menular di Pulau Onrust dan Pulau Cipir. Selain berfungsi sebagai karantina haji, secara bersamaan juga digunakan sebagai tempat tahanan politik para pejuang kemerdekaan Indonesia.
Pelestarian Gugusan Pulau Onrust yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta meliputi perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan. Pelaksanaan perlindungan Benda
Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya dan Kawasan Cagar Budaya pernah dilakukan oleh Dinas Museum dan Sejarah sejak tahun 1972.
 
Nah sekian dulu yah cerita singkatnya, dan masih banyak yang bisa kita eksplore lagi. Seperti makam Noni Belanda Maria van De Velde, serta misteri makam pemberontak DI/TII Kartosuwirjo, dan lain sebagainnya.
Materi ini bersumber dari arkeolog muda yang ditulis di Tangerang Selatan, 4 Mei 2019 oleh : Ary Sulistyo.

Dokumentasi Kegiatan Pulau Kelor :

Dokumentasi Kegiatan di Pulau Onrust :

Dokumentasi Kegiatan di Pulau Cipir :

Dokumentasi Kegiatan di Muara kamal, its about nutrition security.

Perjalanan ini mengajarkan tentang : kondisi lingkungan dengan pemandangan sampah makanan, sejarah yang harus dipelajari lebih jauh, perawatan cagar budaya, kebijakan lingkungan yang harus tersosialisasi, harga ikan di muara kamal, dan perilaku sebagai pengunjung, wisatawan atau peneliti semua memiliki hubungan, tinggal bagaimana mempertahankan keberadaan tanpa merusak dan bisa menjadikan solusi alternatif.

matahari sudah mulai terbenam, dari Muara Kamal, Jakarta Utara

Repa Kustipia,

Center of Study Indonesian Food Anthropology.

ASEAN DIGITAL INNOVATION PROGRAMME

Asean Foundation and Microsoft Launch the Asean Digital Innovation Programme, the video uploaded by Asean Foundation :



We just take a photo for documentation and remember the Founding Fathers of ASEAN :

Before we go home, Actually I was interested to visit ASEAN Gift Shop,

Good Wall to improve the Good Idea (be creative, Youth !)

More collections for Indonesia from Abroad delegation or countries which visit Indonesia :

Good impression when I focus with more Complimentaries such as : book, hardcopy ASEAN report, leaflet, flyer, and its free for visitor or delegation who come to ASEAN, let’s read it at home and learn…learn…learn by doing.

Clean Rest Room 🙂

See you at next event for ASEAN !

Zero Waste Picnic, #Temanpiknikmu

Lokasi : Taman Suropati

kompilasi dokumentasi kegiatan, para hadirin dengan media sosialnya : instagram, Terimakasih untuk menebar kebaikan dan menginspirasi untuk selalu ingat sampah dan lingkungan, Cheers ! Have a great weekend !

  1. Tyas – @tyaseffendi18
  2. Repa – @repakustipia
  3. Angela – @angelapehulisa
  4. Sheila – @sheleilaa
  5. Sarah – jengsarah
  6. @henrisyafutra
  7. Adi @randomhabits
  8. Haidar – @bersua.asa
  9. Noni @melanimous
  10. Novita @novitatheresia
  11. Nonie @NYuwono19
  12. Syifa @syifamahala
  13. Poppy @pancongbetawi
  14. Bukhi – @holisticbukhi